Alexander Agung

psikologi penakluk muda yang ingin menyatukan dunia di bawah satu budaya

Alexander Agung
I

Pernahkah kita merenung sejenak dan memikirkan apa yang kita lakukan saat berusia 20 tahun?

Mungkin sebagian besar dari kita sedang sibuk merevisi skripsi. Mungkin kita sedang bingung mencari jati diri. Atau sekadar galau memikirkan cicilan dan cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan seorang pemuda dari Makedonia bernama Alexander. Di usia 20 tahun, dia menjadi raja. Di usia 25 tahun, dia sudah menaklukkan Kekaisaran Persia yang maha agung. Saat dia meninggal di usia 32 tahun, dia menguasai wilayah yang membentang dari Yunani hingga ke perbatasan India.

Kita mengenalnya sebagai Alexander Agung. Alexander the Great.

Namun, mari kita singkirkan sejenak pedang dan perisainya. Saya ingin mengajak teman-teman membedah isi kepala pemuda ini. Secara psikologis dan biologis, apa yang membuat seorang pemuda awal dua puluhan memiliki ambisi gila untuk menyatukan seluruh dunia di bawah satu budaya?

Apakah dia seorang visioner sejati? Ataukah dia sekadar anak muda dengan trauma pengakuan yang terjebak dalam lingkaran kecanduan ambisi?

II

Untuk memahami psikologi Alexander, kita harus melihat support system—atau mungkin lebih tepatnya, pressure system—di masa kecilnya.

Bayangkan kita lahir dari ayah seorang raja militer yang keras (Raja Philip II) dan ibu yang sangat ambisius serta manipulatif (Ratu Olympias). Sang ayah selalu membuktikan bahwa nilai seorang pria ada pada penaklukan. Sang ibu, di sisi lain, terus-menerus membisikkan ke telinga Alexander kecil bahwa dia bukanlah anak manusia biasa, melainkan keturunan langsung dari Zeus.

Secara psikologis, ini adalah resep sempurna untuk menciptakan narcissistic grandiosity atau perasaan kebesaran diri yang ekstrem.

Lalu, ayahnya menyewa guru privat terbaik di masa itu: Aristoteles. Sang filsuf menanamkan gagasan bahwa budaya Yunani adalah puncak peradaban manusia. Yang bukan Yunani adalah barbar.

Kombinasi ini melahirkan bibit ide yang sangat berbahaya sekaligus revolusioner di otak Alexander. Dia merasa punya takdir ilahi. Dia tidak hanya ingin mengalahkan musuh. Dia ingin melakukan Hellenisasi. Dia ingin melebur seluruh dunia yang berantakan ini menjadi satu kesatuan budaya yang rapi dan elegan.

Tapi ambisi sebesar itu membutuhkan bahan bakar. Dan di sinilah mesin di dalam otaknya mulai menyala tanpa bisa dimatikan.

III

Setelah Alexander menghancurkan pasukan Persia, sebenarnya dia sudah menang mutlak. Dia sudah membalas dendam bangsa Yunani. Dia sudah sangat kaya. Secara logika dasar, dia bisa saja pulang, duduk manis di takhta, dan menikmati hidup.

Pernahkah teman-teman bertanya, kenapa dia tidak berhenti? Kenapa dia terus maju ke timur, melintasi gurun dan pegunungan, menyeret pasukannya yang mulai kelelahan?

Di sinilah kita bertemu dengan konsep psikologis bernama Hedonic Treadmill. Saat kita mencapai sesuatu, otak kita melepaskan dopamin, zat kimia yang memberikan rasa puas. Tapi dopamin ini tidak bertahan lama. Otak kita akan segera menuntut "prestasi" baru yang lebih besar untuk mendapatkan sensasi kepuasan yang sama.

Bagi Alexander, menaklukkan satu kota tidak lagi memberikan kepuasan. Dia butuh penaklukan yang lebih besar.

Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi di tengah jalan. Visi "satu dunia, satu budaya" miliknya mulai berubah bentuk. Dia mulai memakai pakaian khas Persia. Dia memaksa jenderal-jenderal Yunaninya untuk menikahi perempuan-perempuan elit Persia dalam sebuah pernikahan massal raksasa di Susa. Dia ingin menciptakan ras baru, budaya baru, perpaduan Timur dan Barat yang disebut homonoia (kesatuan pikiran).

Pasukannya yang konservatif mulai muak. Mereka merasa dikhianati. Teman-teman terdekatnya mulai mempertanyakan kewarasannya.

Alexander semakin paranoid. Dia mulai mengeksekusi sahabat-sahabatnya sendiri. Visi besarnya tentang persatuan dunia justru mulai menghancurkan lingkaran terdekatnya. Apa yang sebenarnya rusak di dalam kepalanya?

IV

Ini dia fakta ilmiah yang paling sering dilupakan dalam buku-buku sejarah.

Mari kita bicara tentang anatomi otak manusia, spesifiknya prefrontal cortex. Bagian otak ini bertanggung jawab atas pengendalian impuls, evaluasi risiko jangka panjang, regulasi emosi, dan empati. Ilmu neurosains modern membuktikan bahwa prefrontal cortex manusia baru benar-benar matang di usia 25 tahun.

Alexander memulai penaklukan dunianya pada usia 20 tahun. Dia memegang kekuasaan absolut, kekayaan tak terbatas, dan nyawa ratusan ribu orang saat otaknya secara biologis masih dalam tahap konstruksi.

Tanpa rem alami dari prefrontal cortex yang matang, dipicu oleh dopamin penaklukan tanpa henti, dan diperparah oleh delusi keilahian dari ibunya, psikologi Alexander mengalami apa yang disebut identity fusion. Batas antara "dirinya" dan "dunia" menghilang.

Bagi Alexander, kerajaannya adalah dirinya. Kalau dunia ini beragam dan tercerai-berai, maka batinnya pun terasa tercerai-berai. Menyatukan dunia di bawah satu budaya bukanlah sekadar strategi politik militer. Itu adalah mekanisme pertahanan psikologisnya untuk menata kekacauan di dalam dirinya sendiri.

Dia memaksakan persatuan dunia dengan pedang, karena dia tidak tahu cara lain untuk merasakan kedamaian batin. Dia mencoba menjadi tuhan karena dia terlalu rapuh untuk menjadi manusia.

V

Alexander meninggal di usia 32 tahun di Babilonia, kemungkinan besar karena demam, kelelahan ekstrem, dan gaya hidup yang merusak diri. Sesaat setelah kematiannya, impiannya tentang satu dunia hancur lebur. Jenderal-jenderalnya saling bunuh dan membelah kerajaannya.

Namun, visi Hellenisasi-nya tidak sepenuhnya mati. Percampuran budaya Timur dan Barat yang dia mulai terus beresonansi selama berabad-abad, membentuk jalur perdagangan, bahasa, hingga seni.

Melihat Alexander dari kacamata psikologi membuat kita bisa merasakan empati yang aneh terhadap sang penakluk. Di balik keagungannya, dia hanyalah seorang pemuda yang memikul ekspektasi orang tua yang beracun. Dia mencoba berlari dari kehampaan dengan menaklukkan bumi.

Bagi kita di masa kini, kisah Alexander adalah sebuah cermin yang sangat tajam. Saat kita mengejar ambisi kita mati-matian—entah itu karier, validasi di media sosial, atau kekayaan—pola yang sama sering kali terjadi.

Terkadang, obsesi kita untuk mengontrol keadaan di luar sana hanyalah pelarian dari ketidakmampuan kita mengontrol perasaan di dalam diri sendiri.

Jadi, sebelum kita berambisi untuk "menaklukkan dunia" di bidang kita masing-masing, mungkin kita perlu bertanya: sudahkah kita berdamai dengan dunia di dalam kepala kita sendiri?